| Jangan Terlalu Optomis Lah Bu Sri |
|
|
|
| Written by Heri Hidayat Makmun |
| Monday, 24 August 2009 23:28 |
|
China, India dan Indonesia mungkin dianggap Negara yang termasuk beruntung., karena memiliki kekuatan ekonomi domistik yang ditunjang oleh jumlah penduduk dan konsumsi penduduk yang besar, dan ketersediaan sumber bahan baku yang cukup besar sebagai keuntungan komparatif dari wilayah yang luas dan berpenduduk banyak.
Negara-negara seperti China, India dan Indonesia sebenarnya memiliki karakteristik yang hampir sama. Kekuatan ekonomi rakyat yang sebenarnya sebagian besar penduduknya masih berpijak pada ekonomi pertanian. Mungkin memang China dua langkah lebih maju dibandingkan dengan Indonesia, dan India selangkah lebih maju dibandingkan dengan Indonesia dalam hal kapasitas industrialisasi yang tumbuh cepat, walaupun dalam kondisi krisis. Ya tidak apa-apa toh dalam hal krisis ini Indonesia masih tetapi beruntung karena masih tergolong memiliki karakteristik yang hamper sama dengan China dan India yang sudah lebih didepan itu.
Bukan seloroh atau bercanda, jika ada pengamat yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia justru berpondasi pada ekonomi sector informal. Bayangkan saja hamper 71% angkatan kerja kita ternyata ditopang oleh sektor ini. Didalam sector ini sudah mencakup tenaga kerja pada sector pertanian rakyat, perkebunan mandiri, perdagangan , perikanan dan industri kecil rumah tangga. Mereka ini yang menjadi bemper atas kekuatan ekonomi Indonesia untuk menahan krisis.
Ada pengamat yang lebih ektrim lagi bahwa jika Indonesia di embargo pun akan tetap kuat karena kemandirian sector informal ini. Kita tidak mungkin kelaparan karena sector informal pertanian dan telah menyediakan bahan pokok kita seperti beras, nelayan kita masih turun kelaut sehingga kita tidak akan kekurangan protein, kita tidak akan kesulitan mendapatkan sandang karena industry kecil kita sudah menyediakan dengan cukup.
Sekarang apa kontribusi pemerintah pada sector ekonomi yang tahan terhadap krisis ini. Apakah perbankan yang sudah banyak didukung oleh pendanaan perbankan pada krisis Indonesia tahun 2008 itu banyak meluncurkan kridit kepada mereka? Jawabannya ternyata menyedihkan. Apakah program pemerintah sudah cukup membantu sector ini? Jawabannya ternyata tidak juga. Mungkin hal yang cukup memberi kontribusi pada mereka dari tindakan pemerintah adalah pada infrastruktur, seperti jalan, jembatan dan sebagainya, tetapi untuk kegiatan ekonomi rakyat di bagian lain wilayah Indonesia diluar pulau Jawa, Bali dan Madura. Jawabannya juga cukup menyedihkan.
Disisi lain pengambil kebijakan sector keuangan yang terlalu melulu berpikir makro seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam wawancara dengan Karni Ilyas di TV One begitu yakin bahwa kekuatan ekonomi Indonesia dari krisis yang baru lewat itu disebabkan rumus-rumus ekonomi yang mereka susun. Ini tentu bertentangan dengan fakta-fakta di atas. Selama ini kebijakan ekonomi pemerintah hanya berkutet pada sektor formal yang didukung penuh oleh sector perbankan.
Menurut Guru Besar Universitas Pasundan, Prof. Rully Irawan yang dikutif dari media VivaNews, beberapa tahun terakhir, perekonomian mengalami kemajuan, jika dibandingkan pada masa awal krisis ekonomi pada 1997 lalu. "Namun, ketika bicara pemerataan, ekonomi kita mengalami ketimpangan," kata Rully. Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, lanjut Rully, hendaknya per-koperasi-an di Indonesai kembali di dihidupkan.
Kita tahu bahwa salah satu kekuatan APBN pada masa pemerintahan sekarang ini lebih banyak dibebankan kepada hutang. Hutang dijadikan salah satu instrument untuk menenutupi deficit anggaran. Sebenarnya ini tidak masalah jika kita memang tidak tergantung pada hutang tersebut. Memang betul bahwa kita telah terlepas dari hutang dengan IMF tetapi kita sekarang malah terperosok pada berhutang dengan mengeluarkan banyak obligasi yang sebenarnya berbunga lebih tinggi, sekitar 13%.
Dengan kondisi hutang luar negeri kita yang telah mencapai 1.640 Triliun, Sri Mulyani mengakui jumlah hutang kita memang bertambah, tetapi sayangnya beliau masih berpikir itu tidak buruk. Sri Mulyani beranggapan bahwa Jika dibandingkan dengan Jepang yang hutangnya mencapai 150 persen dari PDB, sementara kita 30 persen dari PDB. Sri Mulyani optimis Indonesia masih masuk kategori aman dengan jumlah hutang tersebut. Padahal kita tahu kebijakan ekonomi kita dengan APBN tidak terlalu banyak menyentuh pada kekuatan ekonomi kita sesungguhnya. Bukankah ini berbahaya? Sumber : http://indonesianvoices.blogspot.com/2009/08/jangan-terlalu-optimis-laah-bu-sri.html
|
| Last Updated on Monday, 24 August 2009 23:51 |






![]() | Today | 38 |
![]() | Yesterday | 25 |
![]() | This week | 38 |
![]() | Last week | 202 |
![]() | This month | 133 |
![]() | Last month | 876 |
![]() | All days | 11156 |